Postingan

Gambar
FANA Oleh: Fanisa Nur Fauzia Fahamku tak sampai Memahami maksud tuhan Tentang takdir yang masih kuragukan Rasanya tak mungkin sampai Pada tujuan yang ingin kugapai Mataku tak melihat pada apa yang tuhan tunjukkan Telingaku tak mendengar pada apa yang dikatakan Rasaku mati pada apa yang telah diberikan Kakiku diam tak pernah beranjak maju Tanganku menolak pada setiap pinta yang ingin kuajukan Sebuah fana yang kuharapkan Bodohnya aku berharap pada kesementaraan Yang tak pernah membawaku pada kepuasan Padahal akalku tak pernah tau Sampai mana aku tertuju Karam pada sebuah kebinasaan Jatuh pada setiap kesombongan Tertampar oleh sebuah kenyataan Yang mengajaku untuk pulang
  Arah Ternyata berjalan seiringnya waktu, kegidupan ini tidak mudah untuk dilalui, bahkah bertahan dalam satu hari ini pun aku menaruhkan diriku pada sebuah keraguan yang entah aku ragu mampu melawanya atau tidak. Kehilangan sosok ayah, sama saja aku kehilangan alur hidupku, bagaimana tidak, aku dibuat sebingung ini dalam melanjutkan hari hariku. Aku bingung kepada siapa harus meminta, aku bingung segudang cerita ini harus aku katakan pada siapa.  Demi tuhan aku sudah mengupayakan semuanya untuk menjadi yang terbaik bagi orang disekelilingku, namun nampaknya itu hanya hal kecil yang mereka melihatnya pun tidak. Sebatas menyenangkan orang disekelilingku saja aku tidak mampu. Hal hal kecil yang aku berikan nampaknya tak pernah diapresiasi. Nampaknya apa yang aku usahakan sekarangpun tak akan membuat mereka takjub. Maafkan aku jika hanya menjadi sebab dari kekecewaan kalian, sebab dari beban yang tercipta, sebab dari segala riuh yang ada. Maaf
Masih ditempat yang sama  Rasanya ingin mengungkapkan apa yang dirasa Tapi sadar aku bukan siapa Tak kuduga hal kecil tentangku kau selalu tau Walau kadang kau bersikap tak perduli dan angkuh Hingga aku tersadar ku tak bisa membuatmu luluh Hari yang singkat bersamamu kemarin Nyatanya masih terasa menyenangkan Walau kau sekarang sudah tak ku genggam Entah seberapa banyak aku akan menuliskan tentangmu Karena berat sekali untuk menerima kekalahanku 29 Januari 2025
 Disudut Jendela Kampus Oleh: Fanisa Nur Fauzia. Terbuka memandang luasnya dunia membuka mata bahwa hari ini benar adanya Hari yang kau pijak  dengan berjuta harap meski langkah kerap kali salah  tak menemukan arah, namun Hentakan langkahkulah yang tak kenal menyerah disudut itu aku melihat banyak harap yang ingin ku dekap  walau ku tatap dengan penuh ratap
                                               Entah Apakah memang aku yang kurang berusaha mengupayakan semuanya, berusaha untuk lupa dan menyingkir dari ini semua.  Bukankah rindu itu manusiawi? Layaknya aku hanya seorang manusia biasa yang sedang merasakan rindu itu. Kenangan itu masih tertinggal disini dan dan tak pernah beranjak tak seperti sang pencipta kenangan itu. Meskipun saat terakhir itu selalu kurasa dinginmu, namun selalu kuingat bagaimana hangatnya dirimu saat merayakanku.Tak pernah kusangka manusia seteduh dirimu bisa menjadi badai untuk diriku. Sekencang apapun badai itu, tetap akan kulalui, meski menjalaninya sembari tertatih dan hampir tumbang, tapi aku yakin didepan sana akan ada hal yang lebih indah yang akan menghampiriku.
                                     manusia favorit Bahkan sekedar menghapus foto dan isi pesan kita kemarin pun aku tidak ada energi untuk itu. Mengapa kamu dengan mudahnya menghilang dan melupakanku begitu saja, dan dari banyaknya manusia yang pergi, mengapa kamu? Aku sangat percaya dengan people come and go tapi, aku tidak pernah siap dengan sebuah kepergian itu. Aku bukan pilihan, dan aku hanya ingin dijadikan sebuah jawaban, namun jika jawaban itu bukan aku, maka akan aku akui kekalahanku. Setiap hari, setiap waktu, aku selalu bertanya pada diriku sendiri apa yang harus aku perbaiki dari diri ini, sadarku banyak kekurangan. Namun, apakah harus dengan kamu pergi meninggalkan agar aku tau apa saja yang harus aku benahi. Aku ingin benar benar sibuk agar aku lupa sejenak tentangmu, namun malam mematahkan segalanya. Kenangan manis yang aku ciptakan disiang hari, nyatanya se...